Menulis

Saya sungguh kesulitan mengumpulkan semangat menulis belakangan ini. Rutinitas hampir menelan bulat-bulat waktu yang saya miliki. Ah, tapi kalau dipikir dalam-dalam, mungkin saya saja yang tak punya tekad. Mungkin belum segitu cintanya saya pada urusan tulis-menulis. Masih dangkal dan penuh prasyarat.

Suka berkelit, tak pernah kehabisan alasan. Aih, memalukan sekali.

14 Maret Tahun Kedua

Apa kabar Istriku?

Tidak terasa hari ini sudah kembali bertemu 14 Maret. Setahun lalu saya merapal doa agar di empat belas maret berikutnya, saya dan kamu sudah di bawah atap yang sama. Dan itu benar terjadi. Amboi, betapa beruntungnya saya berbagi kisah dengan kamu sejak 14 Maret tahun lalu. Bukankah begitu?

Cerita kita mungkin hanya begitu. Bertemu di tempat kerja, lalu jatuh cinta kemudian menikah. Bukan cerita yang syahdu untuk dituturtinularkan kepada para pendamba cerita antara Adam dan Hawa. Tapi biarlah, toh kita juga yang memegang kuas, terus saja warnai sampai tangan sudah tak bisa digerakkan lagi. Hanya saya dan kamu saja yang perlu tahu cerita utuhnya. Seperti tentang kegemaran saya mendengar bunyi buang anginmu. Betapa melodisnya, dan tak berlebihan jika saya sebut itu simfoni. Tapi tentu saja, hanya saya dan kamu saja yang perlu tahu.

Saya minta maaf, saat ini saya masih sering terantuk-antuk menjadi suami. Masih sering membuat hatimu terluka. Dan juga banyak tidak becusnya, memasang gas LPG saja harus riset berjam-jam di Google dan mengintip lama-lama di saluran Youtube. Maklum, bagaimanapun saya hanya seorang suami yang jam terbangnya masih terbatas, yang kikuk melihat tabung hijau nan jelek itu. Walaupun begitu, tetap saja saya ingin terlihat gagah. Jadi ketika saya sok tahu biarkanlah sebentar.

Tapi jangan risau, sedikit demi sedikit saya berbenah, satu per satu menaruh kepingan di tempat seharusnya. Jangan bosan ketika saya sering merisak kamu. Karena setiap hari saya akan ada di depan kamu, tepat di depan mata kamu. Memang akan sangat menjengkelkan, bagaimanapun tetap tersenyumlah.

Selamat berulang tahun istriku tersayang. Semoga semakin berwelas asih, semakin berkah tiap detik yang dianugerahkan oleh Allah kepada kamu. Semoga di empat belas Maret berikutnya kita bisa menambah personil.

Saya mencintai kamu di saat kamu manis seperti permen kapas, saat kamu galak seperti cabai dan keadaan disaat berada di antaranya. Sekemput-kemputnya.

 

-Sambil mendengar lagu lama yang liriknya bagus, Al Green, Lets’ Stay Together

 

 

 

 

 

 

 

14 Maret

Dear Yuza Bunga Fitriani,

Bagaimana kabarmu?

Badanmu sudah tak lagi ungu?

Ada data yang belum sinkron?

Sudah bisa benar memakai gincu?

Haha, sudah..tak usah risau untuk perkara gincu. Itu tidak penting. Tanpa itu pun kamu sudah kelewat ayu. Amboi, beruntungnya kamu. Gadis seantero pulau dewata pasti iri dibuatmu.

Maaf kalau memang ucapan ini tak tepat waktu.Tapi semoga tepat untuk banyak hal selain itu.

Selamat berulang tahun,

Sudah bisa mencicil balasan kasih sayang Ayah Ibunda-mu juga Aa’ mu tercinta? Jika belum saya doakan segera.
Sudahkah menjadi kakak yang baik bagi kedua adikmu, Nisa dan Thoriq? Jika memang itu juga belum, saya doakan juga cepat.
Tentu, doa mencapai citamu tak akan lupa  saya sematkan. Semoga tercapai.

Jadilah Yuza Bunga Fitriani yang lebih baik.

Bai de wey, tahu tidak, adanya kamu di kantor kami suasana menjadi beda. Setidaknya bagi saya, seorang pengagum dari ruang server. Saya tak lagi sesuntuk dulu mendengar desingan berisik semriwing dari ruang sebelah. Tak bersungut-sungut ketika memulai pagi di kantor. Tak sebosan dulu melihat kiriman SPT dari Mbok Yudari, Farchan atau Septyan. Apalagi melihat muka Farchan.

Kadang memang kamu berbicara tanpa tedeng aling-aling, seblak sana seblak sini. Jujur. Tapi kamu bisa membuat lingkungan sekelilingmu jadi tempat yang lebih baik, lebih ceria, mungkin tepat dibilang lebih hidup. Menguar ke sana lalu menguar kemari. Menyasar saya pula. Sering senyum-senyum sendiri saya dibuatnya. Namun saya terlalu sibuk bersyukur bisa jatuh cinta lagi untuk mengeluhkan seblakmu yang kemana kemari itu.

Saya beritahu satu hal lagi,

kamu dulu mungkin terisak mendapat kabar penempatan nun jauh di Gianyar, namun diam-diam saya bersyukur siang malam sampai saat ini karena hal itu telah terjadi. Tak mungkin saya bertemu kamu jika kamu ditempatkan di Malang. Dan mungkin saya tidak akan pernah bisa memakaikan helm di kepalamu sewaktu berangkat kantor jika Malang definitifmu, dan itu satu hal yang belakangan secara diam-diam saya gemari. Tak mungkin juga saya bisa tahu kalau kerudung dekat jidat yang kusut bisa dirapikan dengan sekali tiup.

Buh. Ajaib. Sungguh.

Akhirul kalam,

entah sudah baik atau belum surat yang saya buat ini. Saya sendiri tak mafhum. Sekali lagi selamat ulang tahun, selamat ber-empat-belas-maret. Semoga empat belas maret berikutnya saya dan kamu sudah dalam satu naungan atap yang sama.

Sampai jumpa

 

Berkunjung Sejenak ke Bilik Kontjo Lawas

Kontjo Lawas

Kontjo Lawas, merogoh agak dalam ke bilik kenangan kawan-kawan lama.

Mungkin ini tempat paling asyik jika kampung halaman Anda di Jember dan kebetulan ingin bersua kawan lama. Secara teori, tema dan judul pas dengan agenda. Mendulang kenangan.

Kontjo Lawas, yang jika diterjemahkan berarti ‘kawan lama’ menjadi salah satu tujuan cangkruk baru yang menyajikan suasana jadul. Seperti kebanyakan tempat nongkrong, menu makanan dan minuman tak selalu menjadi soal walaupun tak bisa dikatakan hal remeh juga. Mungkin yang terdepan adalah suasana, tapi cita rasa tak boleh jauh tertinggal.

Acara mendulang kenangan bagi saya harus menyediakan satu instrumen yang hukumnya fardhu ain, yaitu keterlibatan kopi. Entah apa bagi orang lain, namun begitulah pendapat saya. Seasyik apapun suasananya, kalau tak menyajikan kopi dengan standar ciamik maka saya tetapkan cacat secara jabatan.

Beruntunglah tempat ini, kopi masih menjadi tajuk. Waktu itu saya mencoba kopi Tana Toraja Kalosi. Desas-desus di dunia minuman beraroma cantik ini mengatakan kalau kopi jenis ini berkadar asam lumayan rendah dan  cenderung floral dan fruity.

Entah apa maksudnya.

Saya memesan disajikan long black, dengan gula di samping cangkir. Memang pahit, karakter yang lekat dengan kopi dan jangan harap rasa itu enyah karena pahit bagi kopi adalah keniscayaan. Entah itu sedikit atau menggigit. Kopi adalah kopi.

Hasilnya? Lumayan. Lolos bagi saya dan, sekali lagi, entah bagi orang lain.

Janji bertemu hanya dengan whatsapp. Bertemulah saya dengan beberapa kawan lama. Angga, Yusron, Kak Ringga, Sibro, Umam, Madya, Sulthon, dan Jen. Namun entah di mana si anak Merauke. Masalah kopi dialah yang bermulut paling besar.

Entah kapan kaos titipan soundrenalin-nya kuserah terimakan. Ah, nanti sajalah kuberikan saat dia menyanding anak orang di pelaminan. Katanya tahun dua ribu enam belas bulan juli.

Pukul 1:18 dini hari, 26 Desember 2015 waktu Indonesia Jember grup whatsapp menampilkan pesan,”Boh..Aku tas moco. Kari wes jam siji,”

Si anak Merauke akhirnya bersuara. Aduh, mading sudah terbit.

Ingin Bertemu Jack Kerouac, Takdir Menuntun kepada Harper Lee

Awalnya saya tak tahu menahu barang secuil pun siapa gerangan si Jack Kerouac. Namun semenjak kemarin, ketika dengan sengaja saya ber-blogwalking-ria ke blog keren, e lah da lah, terbukalah khazanah pengetahuan saya tentang seorang tokoh legendaris yang konon menelurkan kisah perjalanan paling masyhur. Disebut-sebut sebagai sebuah pegangan wajib para pejalan sungguhan: On The Road. A must read travelogue.

Disanjungnya buku tersebut oleh sang empu blog tinggi-tinggi. Sebagai pembaca setianya, saya sudah yakin betul kapasitas si abang dalam urusan baca tulis. Tak perlu banyak meragu saya langsung amini sepenuh sukma. Pertanyaannya sekarang adalah, di mana saya bisa mendapatkan buku luar biasa ini?

Saat ini saya tinggal dan bekerja di Gianyar. Kota kecil di sebelah tenggara pulau Bali. Sudah berbulan-bulan merantau ke sini namun masih kesulitan bepergian tanpa bantuan peta. Masih tolol masalah arah. Dan untuk masalah lokasi harta karun buku-buku tersembunyi pun saya masih terbata-bata.

Sungguh beruntung, saya pernah melihat sekilas ketika berjalan-jalan di Ubud sebuah toko kecil yang menjual buku-buku bekas. Mungkin saja di sana ada, pikir saya. Yang sudah-sudah, acap kali harta karun  berada di tempat-tempat tak terduga.

Tersembunyi di balik bilik-bilik manis khas Ubud, saya menemukan lokasi pertama, Igna Used Books. Out of nowhere (ya, muncul begitu saja bak om jin), seorang wanita bertubuh agak berisi menghampiri saya sembari cepat-cepat mempersilakan masuk. Keramahtamahan yang terlambat saya antisipasi.

Di sinilah kekurangan saya, saya tidak mampu membuka obrolan hangat dengan orang yang baru saja saya temui. Saya tak berani menanyakan nama atau apapun yang lebih personal. Padahal rasa personal mutlak dibutuhkan bagi sebuah tulisan. Keterlibatan rasa personal itu konon begitu penting.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Bagian dalam Igna Used Books

“Mbak, On The Road, penulisnya Jack Kerouac punya gak?” tanya saya, langsung ke inti permasalahan, tanpa basa-basi manis.

“Jack Kerouac? Gak ada di sini. Wah, itu susah dicarinya Mas,” jawabnya dengan memamerkan senyum manis.

Sejenak saya memikirkan topik untuk dibasa-basikan. Melihat banyaknya buku-buku yang tidak saya kenal muncullah ide. Lumayan ada bahan.

“Kalau boleh tahu, buku-buku ini dapat dari mana ya Mbak?”

“Bos saya yang nyari, biasanya sih dari hotel-hotel dia dapet,” dijawabnya secepat kilat.

Lagi-lagi saya tak siap mengantisipasi jawaban secepat ini. Entah hang atau karatan, otak saya berhenti mendadak, panik. Tak tahu harus bertanya apa lagi supaya lebih hangat obrolan kami. Menyedihkan, yang mampu saya lakukan hanya memasang senyum penahan kentut. Mules vrooh.

Karena tak enak hanya tanya-tanya, saya mengambil salah satu buku yang kelihatan menarik untuk dibawa pulang. Saya punya pengalaman buruk di Malioboro akibat banyak tanya ujungnya enggan beli. Penjual yang muntab tak kalah seram dengan seorang ibu yang mendapati putranya makan sambil ngangkang. Maka demi tak mengalami kejadian serupa saya niatkan membeli satu buku walaupun sebenarnya hal ini dari kacamata manapun adalah sesuatu yang wajar.

Saya edarkan pandangan kemudian terhenti di sebuah novel dengan judul Talking God, Tony Hillerman. Siapa dia? Saya sendiri tak tahu. Tunggu saja kejutan yang mungkin dibawanya nanti, pikir saya waktu itu. Siapa tahu kejutan menyenangkan.

“Saya ambil yang ini Mbak, eh, berapa harganya?” saya mendadak cemas karena lupa mengecek harga.

“Sebentar, ini ada di sini. Nah, empat puluh ribu rupiah Mas.”

Saya tidak tahu apakah empat puluh ribu merupakan harga yang layak bagi buku ini. Tapi karena sudah terlanjur bilang ‘ambil yang ini’, mau tak mau harus dipingit itu buku.

Seperti itu, saya mengucap terima kasih lalu buru-buru pergi. Hujan rintik-rintiklah yang pertama kali menyambut saya di luar toko yang tenggelam oleh segala pernak-pernik toko-toko di sebelahnya. Makin menjadi-jadi kekikukan saya.

Pulang. Sudah malas rasanya mau mencari lagi. Langit sedang tak bersahabat. Tapi di sinilah tangan Tuhan membimbing hambanya yang putus asa menuju jalan yang tak disangka-sangka. Di perjalanan pulang, entah hidayah entah anugerah, mata saya dipautkan kepada sebuah toko buku lawas yang ternyata tak jauh-jauh amat dari lokasi pertama. Toko buku Adi. Awalnya saya enggan memarkir motor saya tapi entah mengapa saya parkir juga itu motor butut.

Saya tak lagi memikirkan basa-basi lagi,”Mbak ada Jack Kerouac, On The Road?”

“Nggak ada Mas sepertinya,” jawab mbak penjaga yang kaget dengan pertanyaan tanpa babibu yang saya lontarkan.

Saya kecewa lagi. Jack Kerouac susah sekali ditemui. Maka kali ini saya tak peduli walau hanya melihat-lihat. Saya akan lihat sepuasnya dan saya tidak akan beli.

Sebodo amat,” batin saya.

Tapi begitulah, takdir seringkali mengincar orang-orang yang menolaknya. Baru saja saya membatin tidak akan membeli satu pun buku di sini, mata saya ditambatkan kepada buku yang selama ini ingin saya baca. To Kill a Mockingbird milik Harper Lee. Memang terlambat berdekade-dekade untuk membaca buku ini. Tapi peduli bebek, saya ingin membacanya. Saya beli. Empat puluh lima ribu. Tak apa.

Secepat itu juga saya lupa rasa kecewa saya karena perjumpaan yang tak kunjung terwujud dengan Jack Kerouac. Mungkin pertemuan denga Harper Lee yang tidak terduga menutup coreng moreng luka lama (padahal masih baru juga). Ketika hati riang maka langkah terasa ringan. Senyum begitu gampang ditebar. Rintik hujan pun terasa menyejukkan.

Oh, terima kasih Tuhan!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Buku yang punya efek masif di zamannya. Baik On The Road maupun To Kill a Mocking Bird punya kualitas tersebut. Kata orang-orang sih begitu

Cepat-cepat saya menuju kantor, tak sabar membuat tulisan perjumpaan dengan Harper Lee hari ini. Ya, kantor seperti rumah kedua bagi saya. Kosan yang tak begitu jauh membuat saya banyak menghabiskan waktu di sini, di kantor. Pukul 5 sore. Eh, ternyata saya tak sendiri. Ada juga yang kerja lembur. Luar biasa saya bilang.

Cikuray

Entah kenapa butuh waktu lama sekali menggoreskan tinta untuk menulis pendakian ke Cikuray. Padahal pendakian ke gunung ini punya kesan paling beda diantara pendakian-pendakian lain yang pernah saya lakukan. Memang, Cikuray tak punya gaung sekencang Semeru yang makin tersohor karena lima sentimeter atau Rinjani yang konon parasnya cantik tak terperi. Cikuray pun kalah telak dengan nama besar seperti Tambora.

Tidak. Cikuray kalah jauh untuk urusan macam itu. Cikuray termasuk kalangan gunung jalang, tak dielu-elukan sebagai gunung rupawan.

Tapi..

banyak kejadian-kejadian absurd yang saya alami dan mungkin akan menetap lama di kepala. Coba bayangkan, saya baru tahu ada orang yang namanya Jalalalalalalaludin. Saya lupa pastinya ada berapa ‘lalala’ di namanya. Beliau adalah anak kebanggaan Bapak RT yang kepadanya kami minta izin mendaki. Pun saya tak akan lupa kemurahan hati beliau yang menjamu kami seperti saudara sendiri yang terpisah jauh-jauh hari. Juga, kolak labu bikinan bini beliau yang hangat  dan nikmatnya tak terperi. Akan selalu saya ingat,

Semoga kalian diberkahi dunia dan akherat.

Ada juga cerita menarik tentang anjing. Tidak benar-benar menarik sih. Kisah kejar-kejaran saja. Syahdan, kami dikejar mereka hingga terbirit-birit, lintang pukang, tunggang langgang, entahlah apa ungkapan yang paling pas, pokoknya ada unsur memperjuangkan nyawa di dalam semangat lari kami. Gara-garanya gampang diterka: salah ambil jalan. Sok tahu.

Boi, ternyata tak semua anjing itu semanis Hachiko. Dan amboi seamboi-amboinya… anjing-anjing di sini galak-galak bin seram. Tapi bagaimanapun harus saya maklumi karena mereka juga dibebani amanah menjaga kebun majikannya.

Integritas tetap nomor satu Bung!

Habis dikejar anjing bukan berarti kami tahu jalan. Ujung-ujungnya tetap saja, nyasar. Hingga malam menjelang kami tak kunjung sampai puncak. Harusnya tak sampai petang kami sudah sampai jika jalan yang kami tempuh memang benaran jalan kebenaran.

Di tanah miring 45 derajat kami terlelap dengan sedikit tak terhormat. Di tanah 45 derajat juga kami melaksanakan segala aktivitas, masak, berak (eh berak sih nggak), sampai sembahyang. Sejak awal memang sudah ada rasa curiga, kenapa jalan yang kami lalui menyuguhkan banyak halang rintang seperti pohon tumbang, panjat-panjatan, dan bertiarap ria. Ada yang salah.

Betul-betul bukan seperti Cikuray yang ada di benak kami sebelumnya. Ternyata nubuat Didi benar adanya sejak pertama kali mengahadapi halangan absurd pohon tumbang. Ini sudah jelas bukan jalur pendakian.

Tapi namanya anak muda (sudah, anggap saja begitu) suka sekali dengan namanya tantangan. Teruskan saja!

Satu hal lagi, hantu!

Saya melihat hantu. Merasa saja sih. Sebenarnya saya tidak tahu benar apa yang saya lihat saat itu. Kawan saya pernah bercerita, ketika ia tersesat di pulau Sempu dan harus bermalam di kegelapan dan pekat hutannya, berbagai jenis lelembut khas Indonesia tampak. Mulai emak-emak Kunti sampai si Pocong yang gemar lompat-lompatan. Walaupun bukan dia sendiri yang melihat, temannya yang peka indra keenamnya yang bilang begitu.

Mau tak mau, dengan situasi yang sebelas dua belas saya mulai berpikiran yang bukan-bukan. Bulan begitu bulat malam itu. Pantulan cahayanya banyak membantu menerangi jalan. Saya yang terbangun di tengah malam dengan semangat yang absurd ingin menuntaskan sendiri perjalanan ke puncak membulatkan tekad untuk terus jalan. Mengintip sunrise yang konon sangat syahdu lalu kembali cepat-cepat ketika Saidi dan Didi terbangun.

Saya yakin, dari tempat kami terdampar membuat tenda asal-asalan menuju puncak pasti tak terlampau jauh. Mungkin hanya sepelemparan batu sahaja. Satu dua langkah saya ambil, beberapa meter di hadapan saya, dengan bantuan sinar bulan, samar-samar terlihat sesosok yang sedang berbaring. Entah apa yang ada di pikiran saya, cepat-cepat saya membayangkan pocong. Saya enyahkan secepat itu juga bayangan itu, berpikir lebih rasional.

Namun semakin dekat semakin kuat bayangan pocong di benak saya. Dasar tumis rendang otak udang, tak hilang juga abang pocong ini. Makin lama makin seram saja. Saya enggan dikatakan penakut, hanya saja saat itu saya mulai berpikir lebih bijaksana. Jika saya yang sendirian di tengah malam dan tak tahu jalan meneruskan perjalanan, apa itu bijak? Jangan kau buat kawan-kawanmu kebingungan nanti.

Dengan segala pertimbangan akhirnya urung juga niat nekat itu. Bukan masalah takutnya, hanya bertindak lebih bijaksana saja.

Makjang kalian ini, bukannya saya ngeles, tapi bertindak bijaksana. Lihat, nama saya saja Mirsa Ahmad ‘Arif Wicaksono’, artinya jelas-jelas arif dan bijaksana. Apa belum juga cukup bukti kalau saya itu orang yang bijak yang suka mengambil tindakan bijaksana?

Saya lanjut tidur di kemiringan, paginya ketika pikiran hantu-hantuan sudah tak menyandera pikiran , saya lanjut ke puncak dengan setengah berlari dan ngos-ngosan. Saidi ikut di belakang saya. Didi ogah. Saya pikir satu jam sudah sampai, ternyata tak begitu. Tapi akhirnya sampai juga di puncak.

Setidaknya sampai puncak. Setidaknya begitu.

Kami turun di hari Jumat, perkiraan kami awalnya jam sembilan pagi di hari Jumat sudah bisa sampai di kaki gunung. Harusnya solat Jumat sangat kekejar. Kenyataannya, kami sampai di masjid pas sekali ketika solat Jumat itu baruuu saja bubar. Melengos. Force majeur, saya menenangkan diri sendiri. Mau bagaimana lagi, ya sudah, kami ambil wudhu, sholat Dhuhur berjamaah saja. Didi pilihan utama sebagai imam. Faktor ‘U’ tentu saja.

Kedua Kali

“Jauh adalah kata yang mengawali perjalanan. Jauh menawarkan misteri keterasingan, jauh menebarkan aroma bahaya, jauh memproduksi desir petualangan menggoda. Jauh adalah sebuah pertanyaan sekailgus jawaban, jauh adalah sebuah titik tujuan yang penuh teka-teki.”  -Agustinus Wibowo

CreativeCamera_20141026_9_9_47_714

Untuk yang kesekian kalinya, Edelweiss, bunga Sandar Nyawa

Sony begitu menggebu-gebu saat bicara tentang Rinjani. Melalui whatsapp ia mengajak kami mengambil cuti tiga hari. Tak perlu banyak berpikir saya mengiyakan ajakan seperti ini. Rinjani adalah gunung paling cantik di Indonesia, godaan macam ini siapa yang kuasa menolak?

Sebenarnya saya sudah pernah mendaki Rinjani, pun sudah saya tuangkan dalam bentuk tulisan di sini. Namun karena belum kemput saya menyapa gunung ini, sudah saya tekadkan agar ada yang kedua kali. Lagipula tempat saya mengais rejeki sekarang tak begitu jauh dari rumah sang Dewi Anjani ini. Mungkin hanya selemparan batu, yah walaupun ratusan kali.

Tak masalah. Syahdan, mengambil istilah dari Agustinus Wibowo, ‘jauh’ merupakan kata yang memikat banyak manusia. Saya pun termasuk manusia yang disebut banyak olehnya.

Sony berhasil mengajak dua orang lagi untuk ikut dalam petualangan ini, Ardha dan Topan. Mengenai Ardha, saya tak pernah meragukan semangatnya mencumbu Rinjani. Dia rela melewati berjam-jam perjalanan darat penuh derita dari Labuan Bajo sampai ke Aikmel, titik pertemuan kami berempat.

Saya, Topan dan Sony berangkat Jumat malam dari Gianyar dengan dua buah motor hasil keringat ketiak sendiri, yang satu seken dan  satu lagi masih nyicil. Kami membelah kesunyian malam dengan usaha yang tak setengah-setengah untuk tampak gagah walaupun dinginnya tak main-main.

Singkatnya, setelah perjalanan darat disambung laut lalu darat lagi, kami tiba di Aikmel pagi pukul setengah delapan waktu Indonesia raya bagian tengah.

Aikmel!! Sungguhan singkat sekali bukan?

Sebagai intermezzo, saya akan bicara tentang Rinjani. Gunung ini mempunyai puncak di ketinggian 3.726 mdpl, gunung berapi tertinggi nomor dua di Indonesia. Tapi untuk urusan kecantikan, Rinjani nomor satu. Percayalah!

Bukit-bukit savana di sepanjang Sembalun, keelokan danau segara anak, syahdunya sumber mata air panas yang jatuh menjadi air terjun dan keindahan langit terbit lalu terbenam yang tak bisa disanggah. Buktinya sahih, perawinya jelas.

Rinjani itu gunung yang kumplit.

Topan, Sony, dan saya. Yang motret Ardha. Perjalanan lewat Sembalun

Topan, Sony, dan saya. Yang motret Ardha. Perjalanan lewat Sembalun

Tak lengkap rasanya sebuah kisah perjalanan tanpa kisah manusianya. Selalu ada cerita yang dibawa oleh tiap pendaki. Tak begitu banyak orang yang terpikat begitu jauh dengan gunung. Namun saya jamin, cerita yang akan kalian temui di perjalanan bakal tak habis ditelan si Komo yang suka bikin macet itu.

Di perjalanan menuju puncak kami bertemu Mas Ebit, Pak Joko, turis asal Italia bernama Alex, dan sepasang kekasih dari Belgia. Masing-masing dari mereka membawa cerita sendiri-sendiri.

Mas Ebit datang dari Merak. Pergi sendiri, pulang-pulang kawannya sudah banyak. Berkenalan di bawah, bertemu di puncak. Ketika mendaki lagi mungkin kami bertemu kembali, yah, semoga saja.

Saya, Mas Ebit, dan Ardha. Topan dan Sony tidak ikut muncak, sayang sekali

Saya, Mas Ebit, dan Ardha. Topan dan Sony tidak ikut muncak, sayang sekali

Kalau Pak Joko, dia adalah teman satu angkatan presiden kita, Joko Widodo, sama-sama Joko namanya, di Fakultas Kehutanan UGM. Salah satu pioner kelompok pecinta alam di fakultasnya dan di usianya saat ini masih aktif mendaki. Edyaan tenaan!! Semangatnya nggak lapuk digerogoti waktu.

The best effort I’ve done in my life so far,” ujar Alex, lelaki asal Italia, entah masih bujang atau sudah beranak pinak. Dari plawangan sampai puncak ia tempuh dengan waktu hanya sekitar dua setengah jam. Tak tahu itu benaran atau hanya bualan. Kalau benar itu namanya uedan, saya dan Ardha butuh waktu empat jam lebih untuk bisa benar-benar sampai puncak. Turis bengal satu ini cuma butuh dua setengah jam. Apa dia terbang sampai puncak? Pantas dia bilang ‘the best effort in his life’.

altAjMrIVPxQitI0NkSZwY2ubjhSOYjoz5CpuLcRFsuJz4s

Yang rambutnya paling dikit itu Alex. Itu air terjun yang juga air panasnya.

Kalau sepasang kekasih dari Belgia lain lagi ceritanya. Mereka bukan pecinta gunung tulen. Namun semangatnya paten. Sayangnya tak mampu membawa mereka mencapai puncak, hehe. Paling nyambung sama Ardha, mereka sama-sama mengelu-elukan keindahan alam Labuan Bajo. Kebetulan dua Belgia tadi baru saja dari Labuan Bajo sebelum ke Rinjani, persis Ardha. Tapi beda sebab, Ardha karena tugas, mereka berlibur.

Dari Italia, dari Belgia, dari Ruteng, dari Gianyar, dari Denpasar, dari Jawa Tengah, dan dari Merak. Saya yakin mereka pun seperti saya. Kumpulan mahluk yang terpikat pesona kata ‘jauh’. Kumpulan jalang yang gemar melangkah.

Saya mendaki karena saya ingin punya cerita petualangan. Mendaki gunung rasanya punya cita rasa tersebut. Entah nanti ada makna lain yang ikut tersandung saya tak tahu.  Makna perjalanan mungkin? Ah, saya tak sedalam itu. Seingat saya, ibu saya berkata, “Bilang subhanallah kalau melihat yang indah-indah!” Tapi belakangan saya tahu kata yang diucapkan harusnya masya Allah.

Entah sudah berapa kali saya ucapkan kata-kata itu sepanjang Sembalun menuju puncak Rinjani.

Sebenarnya Oktober 2014 saya mendaki, baru sempat diikat di sini baru-baru ini. Ah, dan ada cerita unik lagi. Ketika pulang di pelabuhan Lembar saya dihadang calo. Diajak berantem karena saya menolak beli tiketnya. Saya lihat calonya juga kecil orangnya, 11-12 dengan saya, lalu dekat juga dengan pos satpam, akhirnya saya beranikan berlagak melawan.
Wih, gaya saya seperti mau berantem bener. Saling jual beli suara yang sengaja agak saya kencangkan dengan harapan pak Satpam dengar. Strategi berhasil, Pak Satpam datang melerai, saya berjalan tegap bak jagoan perang. Untung gak sempet pukul-pukulan. Habis saya. Bisanya cuma nendang bola sih.